6a16510bb68f8
Rupiah Terperosok Makin Dalam! Purbaya Soroti Kejanggalan: Tidak Masuk Akal Jika Fundamental Aman

JAKARTA – Tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan pengambil kebijakan. Di tengah klaim pemerintah bahwa ekonomi makro Indonesia dalam kondisi tangguh, laju depresiasi mata uang Garuda seolah memberikan sinyal yang bertolak belakang. Merespons kejanggalan pasar valuta asing saat rupiah melemah lagi, Purbaya: tidak masuk akal jika fundamental aman sepenuhnya tanpa ada evaluasi mendalam terhadap sektor riil dan moneter.

Kritik tajam namun membangun ini menyadarkan publik bahwa stabilitas di atas kertas harus selaras dengan ketahanan pasar keuangan di lapangan.

Menggugat Klaim “Fundamental Kuat”

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, menyoroti adanya diskoneksi antara narasi makroekonomi yang positif dengan realitas pasar valas. Jika fundamental ekonomi—seperti inflasi yang terkendali, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) positif, dan cadangan devisa mumpuni—benar-benar solid, seharusnya Rupiah tidak begitu rentan terhadap guncangan eksternal.

Pelemahan yang terus-menerus mengindikasikan adanya kebocoran atau masalah struktural yang belum teratasi dengan tuntas.

“Kita tidak bisa terus berlindung di balik narasi stabilitas sementara kurs terus tergerus. Fakta bahwa rupiah melemah lagi, Purbaya: tidak masuk akal jika fundamental aman adalah sebuah autokritik bagi otoritas fiskal dan moneter. Ada defisit kepercayaan atau ketidakseimbangan pasokan dolar di pasar domestik yang harus segera didiagnosis akar masalahnya,” jelas seorang ekonom senior dari lembaga kajian independen di Jakarta.

Tiga Pemicu Rentannya Rupiah di Tengah Klaim Stabilitas

Para analis pasar uang menilai ada tiga faktor krusial yang membuat Rupiah tetap rapuh meski indikator makroekonomi domestik diklaim aman:

  1. Tekanan Suku Bunga Global (The Fed): Sikap bank sentral AS yang bersikukuh mempertahankan suku bunga tinggi membuat selisih (spread) imbal hasil investasi antara AS dan Indonesia makin tipis. Hal ini memicu capital outflow (keluarnya dana asing) dari pasar obligasi dan saham domestik.

  2. Keringnya Pasokan Dolar Eksportir: Meski neraca perdagangan rajin mencetak surplus, banyak eksportir besar yang dinilai masih nyaman memarkir Devisa Hasil Ekspor (DHE) mereka di luar negeri atau dalam bentuk valas, sehingga pasokan dolar di sistem perbankan lokal mengering.

  3. Tingginya Kebutuhan Impor dan Repatriasi: Permintaan dolar dari dalam negeri terus melonjak tajam, baik untuk kebutuhan bahan baku industri manufaktur maupun siklus musiman jadwal pembayaran dividen korporasi multinasional ke negara asal mereka.

Intervensi Harus Diikuti Reformasi Struktural

Operasi moneter Bank Indonesia (BI) di pasar valas dinilai sangat penting sebagai “obat penahan rasa sakit” sementara guna menjaga level psikologis pasar. Namun, untuk mengembalikan kedigdayaan Rupiah untuk jangka panjang, pemerintah dituntut mempercepat reformasi struktural. Ini termasuk penegakan aturan konversi DHE ke Rupiah secara lebih tegas. Tanpa langkah konkret yang membenahi fundamental pasokan valas, pelemahan kurs ini dikhawatirkan akan segera memicu kenaikan harga barang pokok (imported inflation) yang berpotensi melumpuhkan daya beli kelas menengah bawah.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/