69dc7696d03b2
Sentilan Menohok DPR: BPIP Jangan Sampai Kalah 'Keren' dan Eksis dari Pemuda Pancasila!

JAKARTA – Di tengah gempuran ideologi transnasional dan era digital yang serba cepat, tugas negara untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan menjadi semakin menantang. Pada Senin (13/4/2026), Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mendapat sorotan tajam sekaligus “sentilan” jenaka dalam rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Senayan.

Kritik tersebut bermula dari evaluasi kinerja BPIP yang dinilai masih terlalu birokratis, elitis, dan kaku dalam menyosialisasikan Pancasila, terutama kepada generasi Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha. Puncaknya, seorang anggota DPR melontarkan komparasi yang langsung bikin geger seisi ruang sidang: “BPIP ini lembaga negara, punya anggaran triliunan, tapi jangan sampai eksistensinya kalah keren sama Pemuda Pancasila!”

Pernyataan ini jelas bukan tanpa alasan. Organisasi masyarakat (ormas) berseragam loreng oranye-hitam tersebut memang dikenal memiliki jejaring massa yang sangat masif, solid, dan terlihat hadir secara fisik di hampir setiap sudut jalanan hingga tingkat rukun tetangga (RT). Meskipun rekam jejak ormas di lapangan sering memicu pro-kontra, faktanya, eksistensi dan branding mereka jauh lebih menancap di benak masyarakat kelas bawah dibandingkan program-program seminar BPIP di hotel-hotel mewah.

Anggota dewan menuntut BPIP untuk segera keluar dari zona nyaman. Pendekatan doktriner ala masa lalu yang membosankan harus segera ditinggalkan. Jika negara benar-benar ingin Pancasila hidup di hati anak muda, BPIP harus bertransformasi menjadi lembaga yang agile, kreatif, dan “gaul”.

Sosialisasi tidak lagi cukup hanya lewat pidato pejabat atau lomba cerdas cermat. BPIP harus berani masuk ke ranah pop culture, menggandeng kreator konten, e-sports, industri musik lokal, hingga perfilman untuk menyisipkan nilai-nilai toleransi dan gotong royong secara soft selling.

Teguran di pertengahan April 2026 ini adalah pecutan keras. Sebagai pemegang mandat resmi dari negara, BPIP harus bisa membuktikan bahwa merawat ideologi bangsa itu bisa dilakukan dengan cara yang relevan dan trendi. Jangan sampai saat warga ditanya soal “Pancasila”, yang terlintas di kepala mereka malah cuma ormas jalanan, bukan wibawa negaranya!

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/