pekan-pertama-penerapan-kebijakan-wfh-setiap-jumat-dimulai-hari-ini-namun-pergerakan-pekerja-menuju-kantor-tampak-masih-banyak-1775792090153_169
Realita Hari Pertama WFH: Jalanan Tetap Macet, Pekerja Curhat "Semua Tergantung Kerjaannya!"

JAKARTA – Harapan untuk melihat jalanan Ibu Kota dan sekitarnya menjadi lebih lengang pada Jumat (10/4/2026) rupanya harus bertepuk sebelah tangan. Hari pertama bergulirnya imbauan Work From Home (WFH) yang dicanangkan pemerintah ternyata tidak menyurutkan volume kendaraan maupun kepadatan penumpang di berbagai fasilitas transportasi umum.

Pantauan di lapangan, mulai dari Stasiun Bekasi, Halte TransJakarta, hingga ruas Tol Dalam Kota, lautan manusia dan kendaraan masih menjadi pemandangan utama di jam sibuk keberangkatan kerja. Saat ditanya mengenai mengapa mereka tidak memanfaatkan fasilitas WFH, jawaban para pekerja sangat seragam sekaligus menampar realita: “Mau WFH gimana? Semuanya tergantung kerjaannya.”

Jawaban singkat ini merangkum sebuah fakta sosiologis di dunia kerja kita. Kebijakan atau imbauan WFH sering kali dinilai bias dan hanya relevan bagi pekerja kantoran berkerah putih (white-collar) yang berada di sektor digital, teknologi, perbankan back-office, atau administrasi.

Lantas, bagaimana dengan jutaan pekerja lainnya? Bagi tenaga medis, buruh pabrik manufaktur, pekerja konstruksi, staf ritel dan swalayan, hingga pengemudi logistik, kehadiran fisik adalah urat nadi pekerjaan mereka. Mesin pabrik tidak bisa dioperasikan dari meja makan rumah, dan pelayanan pelanggan langsung di kasir tidak bisa digantikan lewat Zoom meeting.

Selain faktor tuntutan profesi (sektor esensial), keengganan pihak perusahaan swasta untuk memberikan izin WFH juga menjadi faktor utama. Masih banyak perusahaan konvensional yang memegang teguh prinsip absensi fisik sebagai tolak ukur kedisiplinan dan produktivitas karyawan. Alhasil, imbauan WFH dari pemerintah daerah tak lebih dari sekadar “saran” yang dengan mudah diabaikan oleh para bos di tingkat perusahaan.

Fenomena di pertengahan April 2026 ini kembali menjadi pengingat bagi para pembuat kebijakan. Menertibkan mobilitas warga tidak bisa dipukul rata hanya dengan menerbitkan surat edaran WFH. Dibutuhkan solusi mobilitas yang lebih komprehensif yang memikirkan nasib para pekerja lapangan.

Buat Sobat Pelita yang hari ini tetap harus mandi pagi, merapikan seragam, dan menembus kerasnya jalanan demi mencari cuan, kalian luar biasa! Tetap semangat, jaga kesehatan, dan selalu berhati-hati di jalan.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/