69f5ea485553a
Waspada Loker Fiktif! Siasat Licik Pelaku Penyekapan Mahasiswi di Makassar Kembali Buka Lowongan

MAKASSAR – Fakta baru yang sangat meresahkan terungkap dari kasus penyekapan dan kekerasan seksual terhadap seorang mahasiswi di Makassar yang sempat menggegerkan publik. Di tengah perburuan intensif oleh aparat kepolisian, terendus bahwa tersangka tidak hanya beraksi satu kali. Terbongkar siasat licik pelaku penyekapan mahasiswi di Makassar kembali buka lowongan kerja fiktif di media sosial untuk menjerat mangsa berikutnya.

Modus operandi menggunakan kedok rekrutmen pegawai ini membuktikan bahwa pelaku bekerja secara terencana dan menargetkan kelompok rentan, khususnya perempuan muda yang sedang mencari pekerjaan paruh waktu.

Manipulasi Melalui Lowongan Kerja Palsu

Berdasarkan penelusuran digital dan keterangan saksi, pelaku sangat lihai memanfaatkan platform media sosial dan grup percakapan pencari kerja. Ia mengunggah poster lowongan pekerjaan dengan iming-iming gaji yang menggiurkan, jam kerja fleksibel, dan syarat yang sangat mudah—sebuah penawaran yang sulit ditolak oleh mahasiswa atau fresh graduate.

Ketika korban merespons dan datang untuk “wawancara” ke lokasi yang telah ditentukan (yang sering kali berupa rumah kos tertutup atau ruko sepi), di situlah niat jahat tersebut dieksekusi.

“Ini adalah predatory behavior (perilaku predator) yang sangat terstruktur. Sangat mengerikan ketika mengetahui siasat licik pelaku penyekapan mahasiswi di Makassar kembali buka lowongan di platform lain saat dirinya sedang berstatus buron. Masyarakat, terutama perempuan, harus ekstra hati-hati,” imbau salah satu aktivis perlindungan perempuan di Makassar.

Tiga Ciri Lowongan Kerja “Jebakan”

Merespons taktik menjebak dari pelaku kejahatan ini, pihak berwenang dan pakar keamanan siber mengeluarkan peringatan keras agar masyarakat tidak mudah tergiur dengan tawaran kerja online.

Beberapa ciri kuat lowongan kerja fiktif yang kerap digunakan sebagai modus kejahatan fisik maupun penipuan finansial meliputi:

  1. Lokasi Wawancara Mencurigakan: Alih-alih di gedung perkantoran resmi, pelaku mengarahkan korban ke alamat rumah pribadi, kos-kosan, atau ruko kosong yang jauh dari keramaian.

  2. Profil Perusahaan Bodong: Nama perusahaan tidak dapat ditemukan di mesin pencari Google, tidak memiliki situs web resmi, atau menggunakan alamat email gratisan (seperti @gmail atau @yahoo) untuk urusan rekrutmen.

  3. Wawancara di Luar Jam Kerja Normal: Pelaku sering kali meminta sesi wawancara atau pertemuan dilakukan pada sore menjelang malam hari dengan alasan “kebijakan manajer”.

Polisi Tingkatkan Patroli Siber

Mengetahui pelaku masih aktif di dunia maya, Tim Cyber Crime Polrestabes Makassar kini bergerak cepat melacak alamat Internet Protocol (IP) dari akun-akun palsu yang menyebarkan lowongan kerja tersebut. Patroli siber ditingkatkan untuk segera memblokir akun pelaku dan mencegah jatuhnya korban baru.

Pihak kepolisian juga mengimbau warga Makassar untuk selalu melakukan pengecekan ganda (cross-check) dan meminta pendampingan teman atau keluarga jika harus menghadiri wawancara kerja di lokasi yang belum pernah dikunjungi.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/