69e74f9977a6b
Rupiah Terus Anjlok, Puan Minta Pemerintah Segera Bertindak Agar Ekonomi Tak Terpuruk!

JAKARTA – Tren pelemahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi secara beruntun kini menjadi sorotan tajam di ranah legislatif. Melihat situasi pasar keuangan yang makin mengkhawatirkan, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Puan Maharani, akhirnya angkat bicara dan mendesak jajaran eksekutif untuk segera melakukan intervensi.

Puan mewanti-wanti bahwa Rupiah terus anjlok bukanlah sekadar fluktuasi angka di layar bursa valuta asing, melainkan sebuah ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi makro dan hajat hidup orang banyak.

Ancaman Inflasi dan Penurunan Daya Beli

Dalam keterangannya, politisi senior ini menyoroti dampak rambatan (spillover effect) dari melemahnya kurs Rupiah yang akan langsung memukul sektor riil. Jika tidak segera dibendung, depresiasi mata uang ini akan memicu imported inflation atau lonjakan harga barang-barang yang bahan bakunya masih bergantung pada impor.

“Pemerintah tidak boleh berlindung di balik narasi bahwa pelemahan ini murni karena faktor global. Puan minta pemerintah bertindak cepat dan terukur. Jangan sampai harga bahan pangan pokok, BBM, dan tarif listrik ikut terkerek naik yang akhirnya mengorbankan daya beli rakyat kecil,” tegas Ketua DPR RI tersebut.

Masyarakat kelas menengah ke bawah dinilai menjadi kelompok yang paling rentan terdampak jika badai nilai tukar ini berujung pada resesi atau pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri manufaktur.

Desak Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter

Untuk mencegah agar perekonomian negara tak terpuruk lebih dalam, parlemen menuntut adanya sinergi yang lebih agresif antara otoritas fiskal (Kementerian Keuangan) dan otoritas moneter (Bank Indonesia).

Beberapa langkah taktis yang didorong oleh parlemen antara lain:

  1. Intervensi Pasar yang Terukur: Bank Indonesia diharapkan lebih aktif mengawal stabilitas nilai tukar di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

  2. Insentif Devisa Hasil Ekspor (DHE): Memastikan para eksportir kelas kakap memarkirkan dananya di dalam negeri untuk mempertebal cadangan devisa.

  3. Efisiensi Anggaran Negara: Pemerintah diminta untuk menunda belanja proyek-proyek non-prioritas yang membutuhkan banyak komponen impor guna mengurangi tekanan dolar.

Menjaga Kepercayaan Pasar dan Investor

Lebih lanjut, Puan menekankan pentingnya komunikasi publik yang menenangkan dari para pemangku kebijakan ekonomi. Di tengah situasi global yang tidak menentu akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan suku bunga The Fed, menjaga trust atau kepercayaan investor asing maupun domestik adalah kunci utama.

Publik dan pelaku pasar kini menanti langkah konkret dari pemerintah. Jangan sampai momentum pemulihan ekonomi nasional pasca-krisis terbuang sia-sia hanya karena lambatnya mitigasi dalam menangani badai pelemahan Rupiah.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/