JAKARTA – Tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir mulai memicu kecemasan di tengah masyarakat. Bayang-bayang kelam krisis moneter masa lalu kerap kali kembali menghantui pikiran publik. Merespons gejolak psikologis pasar tersebut, tokoh ekonomi senior, Purbaya Yudhi Sadewa, akhirnya angkat bicara untuk menenangkan situasi.
Dengan tegas, Purbaya imbau masyarakat tak panik menghadapi situasi ini. Ia memastikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih tangguh dan kondisi Rupiah anjlok tak akan sejelek 98.
Fundamental Ekonomi dan Perbankan Jauh Lebih Kuat
Dalam keterangannya, Purbaya menyoroti perbedaan mencolok antara postur ekonomi Indonesia di era krisis akhir 90-an dengan kondisi saat ini. Kepanikan yang terjadi sering kali tidak didasari oleh pembacaan data yang komprehensif.
“Saya tegaskan, situasi saat ini sama sekali berbeda. Fundamental makroekonomi kita sangat solid. Cadangan devisa yang dikelola Bank Indonesia berada pada level yang sangat aman untuk melakukan intervensi. Jadi, masyarakat dan pelaku usaha tidak perlu latah memborong dolar, karena itu justru akan merugikan diri sendiri dan negara,” ujar Purbaya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan ketahanan sektor perbankan. Pada tahun 1998, krisis nilai tukar langsung menghantam sistem perbankan yang rapuh karena banyaknya utang valuta asing yang tidak dilindung nilai (unhedged). Kini, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan nasional sangat tebal dan diawasi dengan instrumen regulasi yang super ketat.
Aksi Spekulasi Hanya Akan Memperkeruh Suasana
Peringatan dari Purbaya ini sekaligus menjadi sentilan bagi para spekulan pasar yang kerap memanfaatkan momentum pelemahan kurs untuk meraup keuntungan sepihak dengan menebar ketakutan ( fear mongering).
Kepanikan massal (panic buying dolar AS) justru menjadi musuh terbesar stabilitas ekonomi. Ketika Purbaya imbau masyarakat tak panik, ini merupakan panggilan moral agar seluruh elemen bangsa bersikap rasional dan tetap berfokus pada aktivitas ekonomi produktif di sektor riil.
Tiga alasan utama mengapa pelemahan saat ini tak akan sejelek 98:
-
Sistem Nilai Tukar Fleksibel: Indonesia tidak lagi menganut sistem kurs tetap (fixed exchange rate) yang dipaksakan, sehingga depresiasi saat ini adalah mekanisme pasar yang wajar merespons dinamika global (seperti kebijakan The Fed), bukan keruntuhan sistemik.
-
Rasio Utang Luar Negeri Terkendali: Proporsi utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta, saat ini jauh lebih sehat dan terukur dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB).
-
Lembaga Penjaminan yang Kuat: Adanya sistem penjaminan simpanan yang kokoh memastikan dana masyarakat di perbankan tetap aman dari ancaman penarikan dana massal (rush money).
Menanti Sinergi Kebijakan Lanjutan
Meski demikian, pernyataan penenang ini tidak berarti pemerintah dan otoritas moneter bisa bersantai. Purbaya tetap mendorong adanya sinergi yang lebih erat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia untuk mengeluarkan paket kebijakan yang mampu meredam volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Bagi masyarakat luas, pesan utamanya jelas: tetap tenang, percayakan pengelolaan moneter pada otoritas yang berwenang, dan roda perekonomian akan tetap berputar sebagaimana mestinya.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/





















