JAKARTA – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik yang memanas, fluktuasi harga komoditas, hingga kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) dari bank sentral negara maju, banyak negara berkembang yang kini mulai sempoyongan menahan gempuran guncangan eksternal. Namun, perekonomian Tanah Air diklaim masih berdiri tegak di jalur yang positif. Dalam sebuah paparan resmi di hadapan para pelaku pasar modal dan investor, Wamenkeu ungkap alasan ekonomi Indonesia masih mampu hadapi tekanan global dengan tingkat resiliensi yang solid.
Kondisi fundamental ini menjadi daya tarik utama yang membedakan Indonesia dari negara-negara emerging market lainnya yang rentan terhadap pelarian modal asing (capital outflow).
Bertumpu pada Kekuatan Pasar Domestik
Menurut Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), fondasi utama yang menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi global adalah struktur ekonomi yang tidak terlalu bergantung pada permintaan ekspor, melainkan ditopang kuat oleh konsumsi rumah tangga dalam negeri. Populasi yang besar dengan kelas menengah yang produktif menjadi mesin penggerak utama putaran roda ekonomi nasional.
“Kita patut bersyukur bahwa struktur PDB kita sangat domestik-sentris. Saat Wamenkeu ungkap alasan ekonomi Indonesia masih mampu hadapi tekanan global, pasar menyadari bahwa ketergantungan kita pada ekspor yang sedang lesu tidak sebesar negara tetangga. Konsumsi masyarakat dan investasi domestik adalah jangkar penyelamat kita,” analisis seorang ekonom makro dari lembaga perbankan nasional merespons pemaparan tersebut.
Tiga Bantalan Utama Penahan Guncangan Global
Secara lebih rinci, jajaran Kementerian Keuangan membeberkan setidaknya tiga pilar utama yang membuat ekonomi Indonesia tahan banting dari rambatan krisis (spillover effect):
-
APBN Berfungsi Efektif Sebagai Shock Absorber: Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dikelola secara pruden. Subsidi energi, pangan, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) disalurkan secara terukur untuk menyerap guncangan harga global sehingga laju inflasi domestik tetap jinak dan daya beli masyarakat bawah terlindungi.
-
Keberlanjutan Hilirisasi Sumber Daya Alam: Kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah (nikel, tembaga) dan pembangunan smelter di dalam negeri terbukti mendongkrak nilai tambah ekspor secara signifikan, yang berujung pada surplus neraca perdagangan yang stabil selama puluhan bulan berturut-turut.
-
Kinerja Sektor Keuangan yang Terjaga: Sinergi yang kuat antara otoritas fiskal (Kemenkeu) dan moneter (Bank Indonesia, OJK, dan LPS) melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memastikan likuiditas perbankan tetap melimpah dan nilai tukar Rupiah terjaga fluktuasinya sesuai fundamental pasar.
Antisipasi dan Disiplin Fiskal ke Depan
Meskipun capaian saat ini patut diapresiasi, pemerintah menegaskan untuk tidak berpuas diri. Ke depan, tantangan berupa melambatnya perekonomian mitra dagang utama (seperti Tiongkok) dan ancaman perubahan iklim (El Nino/La Nina) yang berdampak pada panen pangan harus diwaspadai. Pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga defisit APBN tetap berada di bawah ambang batas aman demi memastikan rasio utang negara tetap terkendali, sehingga ruang fiskal selalu tersedia setiap saat krisis baru datang menghantam.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/






















