hassan-wirajuda-mantan-menteri-luar-negeri-ri-1770239350369_169
Diplomasi "Kehabisan Bensin"? Eks Menlu RI Sebut Peluang Board of Peace Redam Konflik AS-Israel vs Iran Menipis

JAKARTA – Eskalasi militer yang melibatkan serangan drone terhadap Kedubes AS di Saudi dan langkah balasan dari Washington serta Tel Aviv telah mengubah lanskap keamanan global dalam hitungan jam. Dalam sebuah wawancara pada Rabu (4/3/2026), seorang Mantan Menteri Luar Negeri RI memberikan pandangan pesimistis mengenai peran Board of Peace (BoP) ke depan.

Ia menilai bahwa keterlibatan aktif kekuatan besar dalam aksi militer langsung telah membuat BoP kehilangan “taring” dan wibawa diplomatiknya di mata komunitas internasional.

3 Alasan Mengapa BoP Terancam Gagal (Update Maret 2026)

Menurut Eks Menlu RI, ada tiga faktor utama yang membuat peluang keberhasilan Board of Peace kini merosot tajam:

  1. Pelampauan Garis Merah: Serangan yang menargetkan fasilitas diplomatik dan infrastruktur strategis menunjukkan bahwa pihak yang bertikai sudah tidak lagi mempedulikan norma-norma yang coba ditegakkan oleh BoP.

  2. Kehilangan Posisi Netral: BoP dinilai gagal menjadi penengah yang adil karena tidak mampu memberikan tekanan yang setara kepada semua pihak, sehingga salah satu pihak merasa tidak memiliki insentif untuk bernegosiasi.

  3. Langkanya “Gentlemen’s Agreement”: Saat serangan balasan menjadi prioritas (seperti yang dijanjikan Trump), ruang untuk gencatan senjata melalui jalur BoP menjadi tertutup oleh logika militer “pembalasan segera”.

“Dunia Butuh Arsitektur Perdamaian yang Baru”

Eks Menlu RI menegaskan bahwa jika Indonesia tetap bertahan di BoP tanpa adanya reformasi besar-besaran, maka Indonesia hanya akan menjadi saksi sejarah atas runtuhnya sebuah institusi perdamaian.

“Board of Peace saat ini ibarat wasit di tengah lapangan yang tetap meniup peluit saat pemain sudah saling adu jotos. Peluangnya untuk berhasil tidak lagi hanya berkurang, tapi sedang menuju titik nadir. Jika serangan pre-30 Maret benar terjadi, maka BoP tinggal nama. Kita butuh cara baru, atau kita akan terseret dalam kegagalan mereka,” tegas Eks Menlu RI, Rabu (4/3/2026).

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/