JAKARTA – Pola pelarian pelaku penyerangan terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, menunjukkan tingkat persiapan yang matang. Pada Selasa (17/3/2026), penyidik kepolisian membeberkan fakta baru bahwa terduga pelaku tidak langsung menghilang begitu saja setelah beraksi. Rekaman CCTV di sekitar rute pelarian menunjukkan momen di mana pelaku berhenti di sebuah titik tersembunyi untuk berganti pakaian.
Strategi Memutus Jejak Digital
Langkah mengganti pakaian ini diduga kuat bertujuan untuk mengacaukan pengamatan visual petugas dan sistem pengenalan otomatis yang tersebar di sudut kota Jakarta. Dengan mengganti identitas visual (warna dan jenis pakaian) dalam hitungan menit, pelaku berharap bisa membaur kembali dengan arus lalu lintas normal tanpa mengundang kecurigaan.
“Pelaku sangat sadar akan keberadaan kamera pengawas. Upaya ganti baju ini adalah indikasi kuat bahwa serangan ini dilakukan oleh orang yang terlatih atau setidaknya telah melakukan survei rute pelarian dengan sangat teliti,” ujar perwakilan kepolisian, Selasa (17/3/2026).
Detail Pelacakan dari CCTV ke CCTV
Meskipun pelaku mencoba bersiasat, polisi di tahun 2026 kini didukung oleh integrasi data kamera yang jauh lebih rapat. Penyelidikan saat ini fokus pada:
-
Titik “Blind Spot”: Mengidentifikasi lokasi pasti di mana pelaku berhenti untuk berganti pakaian.
-
Barang Bukti yang Ditinggalkan: Polisi sedang menyisir kemungkinan adanya pakaian atau atribut yang dibuang oleh pelaku di sekitar lokasi pergantian baju tersebut untuk mencari jejak DNA atau sidik jari.
-
Kendaraan Pendukung: Mencocokkan apakah ada perubahan pada plat nomor atau atribut kendaraan (seperti helm atau jaket tambahan) yang digunakan oleh rekan pelaku.
Indikasi Perencanaan Matang
Temuan ini semakin memperkuat teori bahwa ada “otak” di balik serangan ini. Tindakan ganti baju bukan sekadar aksi spontan, melainkan bagian dari protokol pelarian (escape plan) yang biasanya disiapkan dalam operasi yang terorganisir. Hal ini juga selaras dengan dugaan sebelumnya bahwa pelaku berjumlah empat orang yang memiliki peran masing-masing, termasuk tim yang menyediakan logistik pakaian ganti di titik tertentu.
Masyarakat sipil kini mendesak Polri untuk segera mengamankan barang bukti pakaian tersebut jika ditemukan, karena hal itu bisa menjadi “kunci emas” untuk mengungkap identitas asli para eksekutor.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/






















