6a01609d6fbf6
Purbaya Bantah Keras Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Hanya Sekadar Efek Basis Rendah

JAKARTA – Capaian impresif pertumbuhan ekonomi nasional yang menyentuh angka 5,61 persen pada kuartal ini memantik berbagai reaksi. Sebagian pengamat skeptis dan menilai angka tinggi tersebut semata-mata terjadi karena membandingkan dengan periode sebelumnya yang sedang anjlok ( low base effect). Namun, anggapan tersebut langsung ditepis dengan tegas.

Purbaya Yudhi Sadewa, salah satu tokoh penting di sektor keuangan dan penjaminan simpanan, secara terbuka bantah pertumbuhan ekonomi 5,61 persen hanya efek basis rendah. Menurutnya, narasi tersebut mengerdilkan kerja keras seluruh elemen bangsa dalam memulihkan roda perekonomian sesungguhnya.

Fundamental Ekonomi Nyata, Bukan Ilusi Statistik

Dalam paparannya, Purbaya menjelaskan bahwa jika ditelaah lebih dalam dari sisi fundamental, mesin penggerak ekonomi Indonesia benar-benar sedang melaju kencang. Pertumbuhan ini didorong oleh sektor riil yang kembali hidup, bukan sekadar anomali atau ilusi angka di atas kertas.

“Sangat tidak tepat jika ada yang mengatakan ini hanya efek basis rendah. Kita melihat indikator yang jelas: daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah mulai pulih, kredit perbankan tumbuh positif, dan sektor manufaktur terus berekspansi secara konsisten,” tegas Purbaya menanggapi keraguan publik.

Jika pertumbuhan ini murni karena low base effect, lonjakan tersebut biasanya hanya bersifat sementara pada satu kuartal saja dan tidak diikuti dengan perbaikan indikator fundamental lainnya seperti penciptaan lapangan kerja dan peningkatan konsumsi rumah tangga.

Konsumsi Domestik Jadi Tulang Punggung

Lebih lanjut, Purbaya menyoroti betapa kuatnya peran konsumsi domestik dalam menopang capaian pertumbuhan ekonomi 5,61 persen ini. Di tengah guncangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global, pasar dalam negeri Indonesia berhasil menjadi bantalan ( shock absorber) yang sangat tangguh.

Aktivitas masyarakat yang kembali normal seratus persen mendorong perputaran uang yang masif, terutama di sektor transportasi, pariwisata, dan perdagangan eceran.

  1. Sektor Ritel Meroket: Penjualan di tingkat eceran mencatat tren positif berturut-turut.

  2. Kredit Perbankan Ekspansif: Peningkatan permintaan kredit investasi dan modal kerja dari sektor korporasi maupun UMKM.

  3. Investasi Terjaga: Arus modal masuk ( capital inflow), baik dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Asing (PMA), terus menunjukkan stabilitas.

Optimisme Menatap Kuartal Berikutnya

Penjelasan dari Purbaya ini diharapkan mampu meredam spekulasi negatif dan memberikan sinyal optimisme bagi para investor. Perekonomian Indonesia diproyeksikan masih memiliki ruang yang cukup lebar untuk terus tumbuh secara berkelanjutan, asalkan pemerintah dan otoritas terkait mampu menjaga stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat.

Pencapaian ini adalah bukti bahwa strategi pemulihan makroekonomi yang diterapkan berada di jalur yang tepat, jauh dari sekadar keuntungan statistik sesaat.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/