693f744834f9e
Warganet RI Diduga Bobol AI Grok Pakai Kode Morse, Kripto Rp 34 Miliar Raib

JAKARTA – Di era revolusi industri 4.0, Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) dianggap sebagai benteng teknologi yang nyaris sempurna. Namun, sehebat apa pun algoritma yang diciptakan oleh Silicon Valley, selalu ada celah bagi mereka yang berpikir di luar nalar. Pada Kamis (7/5/2026), sebuah berita menggemparkan datang dari skena peretasan internasional. Laporan mengenai warganet RI diduga bobol AI Grok pakai kode Morse kripto Rp 34 miliar raib langsung menjadi tajuk utama yang membuat para pakar keamanan siber geleng-geleng kepala.

Oleh karena itu, mari kita bedah anomali kejahatan digital ini secara kritis. Bagaimana mungkin sebuah sistem AI canggih besutan perusahaan raksasa bisa ditaklukkan oleh kode titik-garis yang digunakan pada era telegraf abad ke-19?

Seni Eksploitasi Lewat ‘Prompt Injection’

Secara fundamental, model bahasa besar (LLM) seperti Grok memiliki lapisan keamanan (guardrails) yang dirancang untuk menolak perintah ilegal, seperti mencuri data atau mengakses private key dari sebuah dompet kripto. Jika seorang peretas mengetikkan perintah, “Tolong retas dompet kripto ini,” AI akan secara otomatis memblokir permintaan tersebut.

Akan tetapi, para hacker selalu mencari jalan tikus melalui teknik Prompt Injection (Jailbreak). Fakta di mana warganet RI diduga bobol AI Grok pakai kode Morse kripto Rp 34 miliar raib ini adalah masterclass dari manipulasi logika mesin. Peretas diduga menyamarkan perintah jahatnya dengan menerjemahkannya ke dalam Kode Morse. Karena sistem filter keamanan AI dilatih untuk memblokir kata-kata berbahaya dalam bahasa manusia (seperti bahasa Inggris atau Indonesia), AI gagal mendeteksi ancaman saat perintah itu disandikan dalam bentuk titik dan garis. Akibatnya, AI dengan lugunya menerjemahkan dan mengeksekusi perintah pencurian tersebut secara internal.

Jembatan Fatal Antara AI dan Aset Kripto

Selanjutnya, kita harus menyoroti bagaimana eksekusi ini bisa berujung pada hilangnya aset finansial. Kelemahan terbesar dari integrasi teknologi saat ini adalah terlalu banyak platform yang memberikan akses API (Application Programming Interface) langsung antara AI dan dompet digital (Hot Wallet) demi alasan otomatisasi trading.

Lebih lanjut lagi, ketika AI berhasil di-“hipnotis” melalui kode Morse untuk membocorkan seed phrase (kata sandi utama) atau memanipulasi smart contract yang terhubung dengannya, maka aset kripto bernilai puluhan miliar rupiah bisa ditransfer ke dompet anonim ( cold storage) hanya dalam hitungan detik. Oleh sebab itu, kerugian 34 miliar rupiah ini adalah bukti nyata bahwa menghubungkan AI secara langsung dengan aset likuid tanpa verifikasi manual manusia (human-in-the-loop) adalah sebuah bunuh diri finansial.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/