JAKARTA – Kawasan Timur Tengah mungkin sedang berada di ambang perang terbuka, namun di Jakarta, pertempuran narasi dan diplomasi sudah dimulai. Sepanjang pekan ini hingga Kamis (2/4/2026), Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia tampak sangat sibuk melakukan safari politik. Sejumlah tokoh nasional, pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar, hingga tokoh-tokoh sentral di parlemen bergantian disambangi.
Bagi para pengamat hubungan internasional, rangkaian kunjungan ini jelas bukan sekadar courtesy call (kunjungan kehormatan) atau silaturahmi biasa. Ada pesan geopolitik yang sangat tebal di baliknya. Pertama, ini adalah bentuk preventive diplomacy (diplomasi pencegahan). Di tengah memanasnya sentimen global akibat serangkaian serangan mematikan antara Israel, blok sekutu Barat, dan proksi-proksi di Timur Tengah—termasuk di Lebanon baru-baru ini—Iran merasa perlu mengamankan narasi mereka di mata Indonesia.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan salah satu pilar Gerakan Non-Blok (GNB), suara Indonesia memiliki bobot moral yang sangat masif di forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Melalui safari ini, pihak Teheran berusaha memaparkan langsung perspektif dan alasan di balik langkah militer maupun politik mereka, sekaligus menepis narasi-narasi miring yang kerap disudutkan oleh media Barat.
Kedua, safari ke tokoh nasional ini adalah strategi untuk merawat basis dukungan akar rumput (grassroots). Tokoh agama dan elite politik di Indonesia memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Dengan merangkul mereka, Iran berharap simpati dan solidaritas dari masyarakat Indonesia tetap mengalir kuat untuk poros perlawanan terhadap kolonialisme di Palestina dan sekitarnya.
Di sisi lain, para tokoh nasional Indonesia menyambut safari ini dengan sikap yang elegan. Mereka mengapresiasi komunikasi terbuka yang dibangun oleh perwakilan Iran, namun tetap menitikberatkan pada prinsip dasar politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Pesan yang konsisten disampaikan oleh para tokoh RI adalah desakan agar semua pihak menahan diri demi mencegah pecahnya Perang Dunia III, serta mendesak penyelesaian konflik melalui jalur negosiasi dan hukum humaniter internasional.
Langkah safari di awal April 2026 ini membuktikan bahwa Indonesia bukanlah sekadar “penonton” di panggung geopolitik global. Kita adalah jangkar stabilitas yang diperebutkan hatinya oleh kekuatan-kekuatan besar dunia. Publik kini menanti, sejauh mana lobi-lobi diplomasi “karpet Persia” ini akan memengaruhi arah kebijakan luar negeri pemerintahan Jakarta ke depannya.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/






















