69fd644d2e6d3
Di KTT ASEAN, Prabowo Ingatkan Isu Ketahanan Pangan Semakin Mendesak untuk Kawasan

JAKARTA – Isu ancaman krisis global menjadi sorotan tajam dalam ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN. Presiden Prabowo Subianto memberikan peringatan keras kepada para pemimpin negara anggota bahwa masalah ketahanan pangan kini bukan lagi isu sekunder, melainkan agenda krusial yang semakin mendesak untuk segera ditangani secara kolektif.

Dalam forum regional bergengsi tersebut, Prabowo menekankan bahwa dinamika geopolitik dunia dan perubahan iklim yang ekstrem telah membawa dampak nyata terhadap rantai pasok makanan global. Jika dibiarkan, hal ini bisa mengancam stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Ketahanan Pangan Kunci Stabilitas ASEAN

Di hadapan para delegasi, Prabowo memaparkan bahwa kawasan ASEAN memiliki potensi agraria yang sangat besar. Namun, tanpa adanya sinergi dan strategi mitigasi yang kuat, negara-negara di Asia Tenggara tetap rentan terhadap guncangan harga dan kelangkaan komoditas pangan pokok.

“Kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Di tengah ketidakpastian global saat ini, ketahanan pangan adalah fondasi utama bagi stabilitas ekonomi dan keamanan kawasan. Isu ini sudah sangat mendesak dan membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas,” tegas Prabowo dalam forum tersebut.

Lebih lanjut, ia mendorong negara-negara ASEAN untuk memperkuat kolaborasi dalam sektor riset pertanian, pertukaran teknologi smart farming, hingga pembentukan cadangan pangan regional (regional food security reserve) yang lebih solid dan siap digunakan saat krisis melanda.

Dorong Kemandirian Pangan Nasional dan Regional

Selain memperkuat kerja sama regional, Prabowo juga menyoroti pentingnya setiap negara untuk memperkuat kemandirian pangan di dalam negeri. Bagi Indonesia sendiri, sektor pertanian dan hilirisasi pangan menjadi salah satu program prioritas pemerintah saat ini guna memastikan ketersediaan pangan yang terjangkau bagi seluruh rakyat.

Kolaborasi antarnegara ASEAN diharapkan dapat memangkas ketergantungan kawasan terhadap impor pangan dari negara-negara di luar Asia Tenggara, sekaligus menjadikan ASEAN sebagai lumbung pangan dunia yang tangguh.

Sinergi Kebijakan Mengahadapi Perubahan Iklim

Tidak lupa, Prabowo mengaitkan tantangan sektor pangan dengan dampak nyata dari perubahan iklim, seperti anomali cuaca El Nino maupun La Nina yang kerap memukul hasil panen petani.

Ia mengajak seluruh pemimpin negara anggota untuk menyelaraskan kebijakan pertanian yang lebih ramah lingkungan (sustainable agriculture) dan berinvestasi pada infrastruktur pengairan guna memastikan ketahanan produksi jangka panjang.

Pernyataan tegas di KTT ASEAN ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia siap mengambil peran proaktif dalam memimpin inisiatif ketahanan pangan di kawasan, demi memastikan kesejahteraan lebih dari 600 juta penduduk Asia Tenggara di masa depan.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/