SUKABUMI – Publik kembali diguncang oleh berita duka yang mendalam dari Sukabumi. Seorang anak dilaporkan meninggal dunia dengan luka-luka yang diduga kuat akibat penganiayaan oleh ibu tirinya. Di tengah proses hukum yang berjalan pada Minggu (22/2/2026), para ahli kesehatan mental mulai menyoroti fenomena ini dari sudut pandang medis dan psikologis.
Kekerasan dalam rumah tangga yang berujung maut ini memicu diskusi luas mengenai kondisi kejiwaan pelaku serta perlindungan anak dalam keluarga blended (keluarga tiri).
Sorotan Dokter Jiwa: Bukan Sekadar “Ibu Tiri Kejam”
Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) menekankan bahwa kasus seperti ini sering kali memiliki akar masalah yang kompleks. Fenomena ini tidak bisa hanya dipandang melalui stigma “ibu tiri jahat” seperti di dongeng, melainkan harus dilihat sebagai kegagalan manajemen emosi dan kemungkinan adanya gangguan mental pada pelaku.
Poin-poin analisis dokter jiwa dalam kasus ini:
-
Agresi Terpindahkan (Displaced Aggression): Pelaku mungkin memiliki masalah atau tekanan hidup (ekonomi, hubungan dengan suami) yang kemudian dilampiaskan kepada anak sebagai target yang lebih lemah.
-
Kurangnya Empati & Gangguan Kepribadian: Ada kemungkinan pelaku memiliki gangguan kepribadian yang membuatnya kesulitan merasakan penderitaan korban.
-
Kelelahan Mental (Parental Burnout): Stres pengasuhan yang tidak tertangani bisa memicu ledakan emosi yang tidak terkendali, terutama jika tidak ada sistem dukungan dari pasangan.
“Pentingnya Deteksi Dini Gangguan Mental”
Pakar kesehatan jiwa mendesak masyarakat untuk lebih peka terhadap tanda-tanda stres berat atau perilaku kasar yang muncul di lingkungan keluarga. Penanganan kesehatan mental sejak dini dapat mencegah terjadinya tindakan fatal yang merugikan nyawa.
“Kasus di Sukabumi ini adalah alarm keras bagi kita semua. Kekerasan sering kali berawal dari stres yang menumpuk dan kesehatan mental yang terabaikan. Jangan tunggu sampai jatuh korban untuk menyadari bahwa ada seseorang di dekat kita yang butuh bantuan psikologis,” ungkap salah satu dokter jiwa senior, Minggu (22/2/2026).
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/
























