MAKASSAR, SULAWESI SELATAN – Suasana ceria remaja yang sedang berkumpul untuk bermain senjata mainan (perang-perangan) mendadak berubah menjadi mencekam pada Selasa (3/3/2026). Berdasarkan informasi awal, aparat kepolisian yang datang untuk membubarkan kerumunan tersebut dilaporkan mengeluarkan tembakan peringatan. Namun nahas, salah satu remaja dilaporkan terjatuh dengan luka tembak yang diduga berasal dari senjata api petugas.
Kejadian ini langsung memicu kemarahan pihak keluarga dan warga sekitar yang tidak menyangka aktivitas remaja tersebut direspon dengan tindakan yang dinilai represif dan mematikan.
Detail Insiden: Mengapa Nyawa Melayang?
Berikut adalah poin-poin krusial yang sedang didalami dalam investigasi awal:
-
Konteks Kejadian: Para remaja dilaporkan sedang melakukan simulasi “perang” menggunakan peluru plastik atau air.
-
Respon Aparat: Kedatangan aparat bertujuan untuk mencegah potensi tawuran atau gangguan Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat).
-
Dugaan Pelanggaran SOP: Penggunaan senjata api dalam pembubaran massa remaja yang hanya membawa senjata mainan kini menjadi poin utama yang diperiksa oleh tim internal kepolisian.
Keterlibatan Propam Polda Sulsel Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) dilaporkan telah turun tangan untuk memeriksa personel yang bertugas di lokasi saat kejadian. Pemeriksaan meliputi uji balistik terhadap senjata api yang digunakan dan pemeriksaan keterangan saksi-saksi mata di TKP.
Kondisi Korban dan Keluarga Jenazah remaja tersebut telah dibawa ke RS Bhayangkara untuk menjalani autopsi guna memastikan penyebab pasti kematian serta jenis proyektil yang bersarang di tubuh korban. Pihak keluarga menuntut keadilan transparan atas kepergian putra mereka.
Tanggapan Polrestabes Makassar Pihak kepolisian menyatakan duka mendalam dan berjanji akan mengusut kasus ini secara transparan. Jika terbukti ada pelanggaran prosedur tetap (Protap), sanksi tegas hingga pemecatan dan pidana akan dijatuhkan kepada oknum yang bertanggung jawab.
“Senjata Mainan Tidak Boleh Dibalas dengan Peluru Tajam”
Insiden ini kembali membuka diskusi mengenai penggunaan kekuatan berlebih oleh aparat keamanan dalam menangani massa remaja.
“Ini adalah tragedi yang sangat disayangkan. Mainan adalah mainan, dan nyawa manusia tidak bisa diganti. Kami mendesak adanya investigasi independen agar kebenaran terungkap. Jangan sampai Ramadan tahun ini menyisakan luka yang tidak pernah sembuh bagi keluarga korban,” ungkap pendamping hukum/aktivis kemanusiaan, Selasa (3/3/2026).
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/






















