DENPASAR – Fenomena tidak lazim terjadi di pasar-pasar tradisional Bali. Seiring dengan masa libur program Makan Bergizi Gratis (MBG), harga berbagai komoditas bahan pokok dilaporkan anjlok hingga 50 persen. Penurunan tajam ini justru memicu gelombang kekecewaan dari kalangan produsen, di mana harga bahan pokok di Bali turun 50 persen saat MBG libur, petani mengeluh lantaran modal produksi tidak tertutup oleh harga jual.
Kondisi ini mencerminkan betapa besarnya ketergantungan serapan pasar lokal terhadap program pemerintah tersebut dalam menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Dampak Instan di Lapangan
Penurunan harga yang drastis ini dirasakan pada berbagai komoditas utama, seperti sayur-mayur dan produk hortikultura lainnya yang selama ini menjadi pemasok utama untuk kebutuhan program MBG.
“Saat program berjalan, kami bisa bernapas lega karena harga stabil. Namun, ketika harga bahan pokok di Bali turun 50 persen saat MBG libur, petani mengeluh karena harga di tingkat pengepul jatuh bebas. Kami serba salah, biaya tanam tinggi tapi harga jual malah hancur,” ujar salah satu perwakilan kelompok tani di wilayah Bali.
Analisis Ekonomi: Efek Domino MBG
Ketergantungan harga pada program pemerintah menunjukkan bahwa rantai pasok lokal di Bali kini sangat dipengaruhi oleh volume serapan dari sektor publik.
| Kondisi Pasar | Dampak bagi Petani |
| Saat MBG Berjalan | Harga stabil, serapan tinggi, petani mendapatkan keuntungan wajar. |
| Saat MBG Libur | Over-supply di pasar lokal, harga jatuh hingga 50 persen. |
| Keluhan Utama | Ketidakmampuan menutup biaya operasional (pupuk, bibit, dan tenaga kerja). |
Harapan bagi Pemangku Kepentingan
Kalangan petani kini berharap adanya intervensi atau regulasi yang lebih stabil agar harga komoditas tidak berfluktuasi terlalu tajam saat program-program pemerintah sedang tidak aktif. Alternatif seperti gudang penyimpanan (cold storage) atau pengolahan pasca-panen menjadi solusi yang terus disuarakan agar petani tidak terus-menerus menjadi pihak yang paling dirugikan oleh dinamika pasar.
Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan evaluasi terhadap skema serapan pasar agar harga bahan pokok di Bali tetap berada pada titik yang menguntungkan bagi petani, tanpa membebani daya beli masyarakat secara berlebihan.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/

























