076248000_1656588418-ilustrasi_pemerkosaan
Runtuhnya Kemanusiaan di Makassar: Saat Istri Justru Jadi Sutradara Pemerkosaan Suami Demi Uang Gaji

MAKASSAR – Apa yang lebih mengerikan dari kejahatan seksual? Jawabannya mungkin adalah ketika kejahatan itu direncanakan secara dingin, kalkulatif, dan didukung oleh orang yang seharusnya menjadi pelindung sesama wanita.

Kasus yang baru saja terungkap di Makassar ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah potret buram tentang seberapa rendah moralitas manusia bisa jatuh ketika diperbudak oleh keserakahan materi.

Pengkhianatan Kaum Sendiri

Dalam struktur sosial kita, sosok “Istri” atau “Ibu” seringkali diasosiasikan dengan kelembutan dan perlindungan. Namun, stereotip itu hancur lebur dalam kasus ini. Sang istri, yang seharusnya memiliki empati terhadap sesama perempuan, justru bertransformasi menjadi sutradara kekejaman.

Ia tidak memalingkan muka saat suaminya menodai pekerja mereka. Ia justru mengambil ponsel, mengarahkan kamera, dan merekam setiap detik penderitaan korban.

Tindakan ini menghancurkan asumsi dasar solidaritas perempuan (women supporting women). Di rumah itu, korban benar-benar sendirian, terperangkap di antara predator seksual dan predator manipulatif.

Nyawa Dihargai Murah

Yang membuat bulu kuduk merinding adalah motif di balik layar. Bukan dendam kesumat, bukan pula sekadar kelainan seksual. Alasannya sangat banal: Uang.

Pasutri ini tidak ingin mengeluarkan uang untuk membayar gaji pekerjanya. Video pemerkosaan itu diniatkan sebagai alat sandera (leverage). Logika mereka sederhana namun setan: “Jika kamu minta gaji, video aibmu kami sebar.”

Mereka menukar harga diri dan masa depan seseorang hanya demi menghemat pengeluaran bulanan. Ini menunjukkan betapa murahnya nilai manusia di mata mereka dibandingkan lembaran rupiah.

Pelajaran Pahit bagi Kita

Polisi kini telah bertindak tegas. Jeratan pasal berlapis menanti kedua pelaku. Namun, luka psikologis korban tidak akan sembuh secepat ketukan palu hakim.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi kita semua. Bahwa di balik pintu-pintu rumah tertutup, relasi kuasa antara majikan dan pekerja—terutama pekerja domestik—masih sangat rentan dieksploitasi. Perlindungan hukum bukan lagi sekadar wacana, tapi kebutuhan mendesak agar “perbudakan modern” berbalut ancaman aib seperti ini tidak terulang lagi.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/