698284417da54
Kronologi Tewasnya Saif al-Islam Gaddafi: Serangan Mendadak 4 Pria Bertopeng Guncang Libya

TRIPOLI – Lanskap politik Libya kembali membara. Kabar mengejutkan datang dari putra mendiang diktator Muammar Khadafi, Saif al-Islam Gaddafi, yang dilaporkan tewas dalam sebuah serangan brutal di kediamannya pada Rabu (4/2/2026).

Peristiwa ini menandai berakhirnya perjalanan salah satu figur paling kontroversial dan berpengaruh yang selama ini digadang-gadang sebagai calon pemimpin masa depan Libya untuk memulihkan era kejayaan ayahnya.

Kronologi Serangan Fajar

Berdasarkan laporan saksi mata dan sumber keamanan setempat, serangan tersebut terjadi dengan sangat cepat dan terorganisir. Berikut adalah garis besar peristiwa yang menewaskan Saif al-Islam:

  • Penyergapan Kilat: Sekelompok orang yang terdiri dari 4 pria bertopeng menyerbu rumah persembunyian Saif al-Islam di pagi buta.

  • Tembakan Membabi Buta: Kelompok penyerang tersebut dilaporkan langsung melepaskan tembakan saat berhasil menembus pertahanan luar kediaman.

  • Tanpa Klaim Tanggung Jawab: Hingga saat ini, belum ada kelompok milisi atau entitas politik mana pun yang menyatakan bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.

Siapa di Balik Topeng?

Tewasnya Saif al-Islam menyisakan banyak tanda tanya besar. Sebagai sosok yang sempat dijatuhi hukuman mati namun kemudian dibebaskan dan aktif kembali di kancah politik, Saif memiliki banyak musuh sekaligus pendukung fanatik.

Spekulasi yang berkembang di lapangan mencakup:

  1. Persaingan Kelompok Milisi: Rivalitas antar faksi bersenjata di Libya yang tidak menginginkan kembalinya dinasti Gaddafi.

  2. Operasi Intelijen: Dugaan keterlibatan pihak luar yang ingin menjaga stabilitas (atau ketidakstabilan) di wilayah Afrika Utara.

  3. Dendam Masa Lalu: Kelompok revolusioner yang masih memiliki sentimen kuat terhadap keluarga Khadafi.

Masa Depan Libya Tanpa Sang “Pewaris”

Kematian Saif al-Islam Gaddafi diprediksi akan mengubah peta koalisi di Libya. Para loyalis Khadafi kini kehilangan sosok sentral yang selama ini menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintahan transisi. Dunia internasional, termasuk PBB, kini tengah memantau ketat potensi eskalasi kekerasan yang mungkin timbul sebagai bentuk aksi balasan dari para pendukungnya.

“Ini bukan sekadar pembunuhan biasa; ini adalah pesan politik yang sangat keras bagi siapa pun yang mencoba membangkitkan kembali era lama di Libya,” ungkap seorang analis konflik Timur Tengah di Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Hingga berita ini diturunkan, otoritas Libya masih melakukan investigasi mendalam dan menutup area sekitar lokasi kejadian untuk mencari jejak para pelaku yang melarikan diri tak lama setelah serangan terjadi.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/