JAKARTA – Keputusan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax sempat memantik kekhawatiran publik mengenai ancaman lonjakan harga kebutuhan pokok. Bayang-bayang inflasi liar menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku usaha dan rumah tangga. Merespons kepanikan pasar tersebut, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan pandangan yang menenangkan. Dalam analisis terbarunya, Purbaya sebut dampak kenaikan harga Pertamax ke inflasi minim, akui ada yang tetap merasakan tekanan, namun dampaknya tidak akan merusak fundamental ekonomi nasional.
Proyeksi optimis ini didasarkan pada struktur konsumsi energi di Indonesia, di mana pergerakan inflasi inti lebih banyak disetir oleh biaya logistik dan transportasi massal, alih-alih konsumsi BBM kendaraan pribadi.
Kendaraan Logistik Tidak Meminum Pertamax
Alasan utama mengapa lonjakan harga barang (cost-push inflation) tidak akan terjadi secara ekstrem adalah profil pengguna Pertamax itu sendiri. Sebagian besar armada pengangkut sembako, truk logistik, dan angkutan umum lintas daerah menggunakan bahan bakar jenis Solar bersubsidi atau bensin RON 90 (Pertalite). Sepanjang harga BBM bersubsidi ini ditahan oleh pemerintah, tarif angkutan barang relatif akan tetap stabil.
“Asesmen dari otoritas sangat logis. Fakta di mana Purbaya sebut dampak kenaikan harga Pertamax ke inflasi minim, akui ada yang terdampak menunjukkan pemahaman yang utuh terhadap struktur inflasi kita. Karena biaya distribusi barang tidak naik signifikan, maka harga pangan di pasar tradisional seharusnya tidak mengalami gejolak yang drastis, kecuali ada pedagang yang bermain spekulasi,” urai seorang ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) merespons pernyataan tersebut.
Tiga Kelompok yang Tetap Terdampak Penyesuaian Harga
Meski secara makroekonomi aman, Purbaya dan para analis tidak menampik bahwa realitas di lapangan tetap menyisakan efek kejut (shock). Terdapat tiga kelompok utama yang paling merasakan imbas dari kenaikan Pertamax ini:
-
Pengemudi Transportasi Online (Ojol): Banyak pengemudi ojek online yang mengandalkan Pertamax untuk menjaga keawetan mesin motor mereka. Kenaikan harga ini langsung memangkas margin keuntungan bersih harian mereka karena tarif penumpang belum tentu ikut disesuaikan.
-
Kelas Menengah Rentan: Kelompok masyarakat kelas menengah yang tidak mendapat jaring pengaman sosial pemerintah terpaksa harus merealokasi pos pengeluaran bulanannya (seperti mengurangi belanja sekunder) demi menutupi biaya transportasi harian.
-
Fenomena “Inflasi Psikologis”: Walaupun ongkos logistik tidak naik, sentimen “harga BBM naik” sering kali dijadikan alasan (aji mumpung) oleh sebagian pedagang eceran atau warung makan untuk ikut-ikutan menaikkan harga jual barangnya.
Menjaga Daya Beli dan Intervensi Pemerintah
Guna mencegah terjadinya inflasi psikologis yang merugikan masyarakat luas, pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) didesak untuk terus melakukan pemantauan harga (price monitoring) secara ketat di pasar-pasar tradisional. Stabilitas harga pangan pokok adalah kunci utama untuk mempertahankan daya beli masyarakat, sehingga target pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen pada kuartal mendatang tetap dapat tercapai dengan solid.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/

























