69e7483723a7a
Flexing APBN! Tolak Pinjaman IMF & Bank Dunia, Pemerintah Klaim Fiskal RI Masih Kebal Krisis

JAKARTA – Bayangan kelam krisis moneter 1998 yang menyeret Indonesia ke dalam “pasien” Dana Moneter Internasional (IMF) tampaknya pantang untuk diulang. Pada Selasa (21/4/2026), pemerintah melalui jajaran elit ekonominya melempar sinyal optimisme tingkat tinggi di tengah ancaman guncangan ekonomi global yang sedang tidak baik-baik saja.

Pernyataan tegas ini meluncur di ruang publik ketika Purbaya tolak pinjaman IMF hingga Bank Dunia, klaim fiskal RI masih kuat hadapi berbagai tekanan eksternal maupun internal. Sikap “jual mahal” ini didasarkan pada indikator makroekonomi yang di atas kertas memang terlihat cukup sehat. Cadangan devisa negara dinilai masih tebal, rasio utang terhadap PDB masih dalam batas aman undang-undang, dan postur APBN dianggap masih sanggup menjadi shock absorber (peredam kejut) bagi perekonomian nasional.

Langkah menolak “bantuan” dari lembaga internasional ini patut diapresiasi dari kacamata kedaulatan ekonomi. Sejarah membuktikan bahwa pinjaman IMF sering kali datang dengan paket syarat penyesuaian struktural yang menyiksa rakyat, seperti pemotongan subsidi gila-gilaan dan privatisasi aset negara.

Namun, mari kita turun dari menara gading makroekonomi ke realita aspal jalanan. Klaim “fiskal kuat” ini sayangnya sering kali terasa seperti disconnect (terputus) dengan apa yang dirasakan oleh kelas menengah dan akar rumput.

Di saat pemerintah flexing APBN yang kokoh, di akar rumput kita justru melihat ratusan ribu anak muda saling sikut memperebutkan satu lowongan kerja koperasi desa, harga sembako yang tak kunjung jinak, hingga tren fenomena “makan tabungan” ( dissaving) yang melanda pekerja kantoran.

Publik berharap, ketahanan fiskal negara yang dibanggakan ini tidak hanya sekadar angka cantik di presentasi internasional. Uang kas negara yang diklaim masih aman itu harus segera ditransmisikan menjadi kebijakan nyata yang menyentuh dompet rakyat. Fiskal negara boleh dibilang kuat, tapi percuma kalau daya beli rakyatnya yang justru sekarat!

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/