SIDOARJO – Fenomena kebocoran dana retribusi parkir yang sering kali menguap entah ke mana, tampaknya akan segera menemui jalan buntu di Kabupaten Sidoarjo. Pada Senin (20/4/2026), pemerintah daerah setempat resmi tancap gas untuk mentransformasi sistem perparkiran konvensional menuju era cashless alias nontunai.
Langkah tegas ini diambil bukan tanpa alasan. Guna optimalkan PAD, Pemkab Sidoarjo genjot digitalisasi pembayaran parkir di berbagai titik strategis. Selama ini, sektor parkir tepi jalan umum selalu menjadi primadona sekaligus “lubang hitam” bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Banyaknya potensi retribusi yang tidak terserap maksimal akibat sistem setoran manual, membuat pemerintah daerah kehilangan miliaran rupiah yang seharusnya bisa digunakan untuk memperbaiki jalan berlubang atau membangun fasilitas umum.
Dengan sistem digitalisasi seperti penggunaan QRIS atau mesin Electronic Data Capture (EDC), setiap rupiah yang dibayarkan oleh masyarakat akan langsung masuk ke kas daerah secara real-time dan transparan. Warga tidak perlu lagi repot merogoh saku mencari uang receh, dan yang terpenting, ini akan mematikan ruang gerak oknum juru parkir (jukir) liar yang sering melakukan pungutan liar (pungli) dengan karcis bodong.
Meski wacana ini terdengar sebagai solusi instan yang brilian, tantangan di lapangan tentu tidak mudah. Pergeseran kultur dari uang tunai ke digital membutuhkan edukasi masif, tidak hanya kepada masyarakat selaku konsumen, tetapi juga kepada para jukir resmi yang bertugas di lapangan.
Pemerintah tidak boleh sekadar menyediakan alat, tetapi juga wajib memastikan nasib para jukir resmi ini tetap sejahtera dengan sistem bagi hasil atau gaji yang adil. Jangan sampai niat baik digitalisasi ini justru menimbulkan konflik horizontal di jalanan karena minimnya sosialisasi.
Bagi kita para kaum muda yang sudah terbiasa hidup cashless, ini adalah momentum untuk mendukung transparansi. Mari biasakan menuntut pembayaran parkir secara digital jika fasilitasnya sudah tersedia. Uang dua ribu rupiah memang terlihat kecil, tapi kalau dikalikan jutaan kendaraan dan benar-benar masuk ke kas daerah, itu bisa jadi modal besar buat memajukan kota!
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/





















