JAKARTA – Dunia kini tengah menahan napas menghadapi ancaman resesi energi yang nyata. Hingga Rabu (18/3/2026), akses logistik di Selat Hormuz—jalur nadi bagi sekitar 20-30% pasokan minyak mentah dunia—dilaporkan masih lumpuh total. Penutupan jalur ini merupakan buntut dari meningkatnya ketegangan antara Iran dan sekutu Barat, yang membuat kapal-kapal tanker raksasa tertahan dan tak berani melintas.
Pasar Minyak dalam Tekanan Hebat
Ketiadaan kepastian kapan jalur ini akan dibuka kembali membuat harga minyak mentah jenis Brent dan WTI melonjak ke level yang tidak terduga. Para pelaku pasar menyebut kondisi ini sebagai “tekanan pasokan paling ekstrem” di dekade ini.
“Pasar tidak menyukai ketidakpastian. Selama Selat Hormuz tertutup, premi risiko akan terus membengkak, dan harga minyak akan tetap berada di jalur ‘hijau’ yang menyakitkan bagi konsumen,” ungkap pengamat pasar komoditas, Rabu (18/3/2026).
Berikut adalah estimasi pergerakan harga minyak mentah di pasar global:
| Jenis Minyak | Harga Pre-Blokade (USD/Barel) | Harga Saat Ini (18/3/2026) | Kenaikan (%) |
| Brent Crude | $85.50 | $125.20 | +46.4% |
| WTI (US Oil) | $80.20 | $118.90 | +48.2% |
Dampak Bagi Indonesia: APBN di Titik Nadir
Bagi Indonesia, tertutupnya Selat Hormuz adalah kabar buruk ganda. Sebagai negara net importer minyak, lonjakan harga global ini secara otomatis akan:
-
Membebani Subsidi BBM: Pemerintah dipaksa memutar otak agar harga BBM dalam negeri tidak meroket, yang berarti alokasi subsidi di APBN 2026 akan membengkak drastis.
-
Inflasi Barang Pokok: Kenaikan biaya logistik global akibat pengalihan rute kapal (memutar lewat Afrika) mulai merembet pada kenaikan harga barang impor dan pangan.
-
Nilai Tukar Rupiah: Tekanan pada impor migas membuat kebutuhan akan Dolar AS meningkat, yang berpotensi melemahkan posisi Rupiah terhadap Greenback.
Upaya Diplomasi Energi
Di tengah situasi ini, Indonesia melalui Menteri Luar Negeri dan Menteri Energi dilaporkan terus menjalin komunikasi intensif dengan negara-negara produsen minyak lainnya (OPEC+) untuk mencari jalur alternatif atau peningkatan produksi di wilayah lain guna menstabilkan harga. Namun, selama “gerbang” Hormuz belum terbuka, solusi permanen nampaknya masih jauh dari jangkauan.
Masyarakat dihimbau untuk mulai melakukan langkah-langkah efisiensi energi secara mandiri, mengingat durasi krisis ini belum bisa diprediksi secara pasti.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/

























