699868b54fff5
Lebih dari Sekadar Data! Ragam Kesepakatan Strategis AS-Indonesia 2026: Dari Mineral Kritis hingga Keamanan Digital

WASHINGTON D.C. / JAKARTA – Hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat memasuki babak baru yang lebih kompleks di awal tahun 2026. Menanggapi isu yang berkembang mengenai poin kesepakatan yang menyebutkan pengiriman data konsumen, pemerintah memberikan penjelasan bahwa poin tersebut adalah bagian dari standarisasi ekonomi digital internasional.

Namun, yang perlu digarisbawahi adalah kesepakatan ini tidak hanya berfokus pada aliran data, melainkan mencakup sektor-sektor kunci yang akan menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia di masa depan.

Bukan Sekadar Data: Fokus pada Reciprocity (Timbal Balik)

Isu mengenai data konsumen memang sensitif. Pemerintah menjelaskan bahwa kesepakatan digital ini bertujuan untuk memudahkan transaksi lintas batas (cross-border trade) yang aman, di mana AS juga memberikan akses dan proteksi yang sama bagi data pelaku usaha Indonesia yang merambah pasar Amerika.

Selain urusan digital, berikut adalah sektor utama yang menjadi poin kesepakatan:

  • Mineral Kritis (Nikel & Baterai): AS memberikan lampu hijau untuk memasukkan mineral dari Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik mereka, yang memberikan keuntungan besar bagi program hilirisasi nasional.

  • Transfer Teknologi Semikonduktor: Investasi besar-besaran perusahaan AS untuk membangun pusat riset dan manufaktur komponen mikrochip di Indonesia.

  • Keamanan Siber: Penguatan benteng pertahanan digital Indonesia melalui pelatihan dan penyediaan infrastruktur keamanan siber tingkat lanjut.

  • Energi Bersih: Pendanaan dan dukungan teknis untuk percepatan pensiun dini PLTU batu bara menuju energi terbarukan.

“Menjaga Kedaulatan di Tengah Globalisasi”

Pemerintah menjamin bahwa semua kesepakatan, termasuk mengenai aliran data konsumen, tetap tunduk pada UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) yang berlaku di Indonesia. Tidak ada data yang diberikan tanpa protokol keamanan dan persetujuan yang ketat.

“Kesepakatan dengan Amerika Serikat ini adalah paket lengkap. Jangan hanya melihat satu poin soal data, tapi lihat bagaimana kita berhasil mengunci komitmen investasi di sektor mineral dan teknologi yang selama ini sulit kita tembus. Ini adalah diplomasi ekonomi yang setara,” ungkap salah satu pejabat tinggi kementerian, Senin (23/2/2026).

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/