4bcb4a2d-1483-4be6-819b-3e63c586e51f_169
Tembus US$ 431,7 Miliar! Utang Luar Negeri RI Naik, Bank Indonesia Ungkap Deretan Penyebabnya

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali merilis data terbaru mengenai posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia. Pada laporan Kamis (19/2/2026), tercatat posisi ULN RI mengalami kenaikan dan mencapai angka US$ 431,7 miliar. Angka ini mencerminkan dinamika pembiayaan pembangunan serta pengaruh fluktuasi pasar keuangan global yang cukup dinamis di awal tahun 2026.

Meski angka tersebut terlihat masif, Bank Indonesia menegaskan bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat dan dikelola dengan prinsip kehati-hatian.

Mengapa Utang Luar Negeri RI Naik?

Kenaikan ini tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor teknis dan strategis yang memengaruhi pergeseran angka tersebut dari periode sebelumnya.

Beberapa penyebab utama kenaikan ULN RI:

  • Faktor Nilai Tukar (Currency Effect): Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS menyebabkan nilai utang dalam mata uang domestik terlihat membengkak saat dikonversi.

  • Penarikan Pinjaman Pemerintah: Digunakan untuk membiayai sektor produktif dan prioritas nasional, termasuk perlindungan sosial dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

  • Aktivitas Korporasi: Peningkatan kebutuhan pembiayaan dari sektor swasta, terutama di industri lembaga keuangan dan asuransi guna ekspansi usaha.

  • Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN): Tingginya minat investor asing terhadap SBN domestik juga berkontribusi pada posisi utang luar negeri sektor publik.

“Tetap Terkendali dan Berorientasi Produktif”

Bank Indonesia memastikan bahwa rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada dalam batas aman, yakni di kisaran 30% hingga 33%. Selain itu, mayoritas utang merupakan utang jangka panjang yang memiliki risiko lebih rendah terhadap stabilitas sistem keuangan.

“Struktur ULN kita tetap sehat. Fokus penggunaan utang pemerintah adalah untuk sektor produktif yang memberikan nilai tambah bagi ekonomi, seperti sektor jasa kesehatan, pendidikan, dan konstruksi. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memantau perkembangan ini agar tetap kredibel,” tulis Bank Indonesia dalam keterangannya, Kamis (19/2/2026).

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/