WASHINGTON D.C. – Gelombang pengungkapan dari berkas Jeffrey Epstein kembali memicu kemarahan publik, kali ini menyentuh ranah religi yang sangat sensitif. Dokumen terbaru yang dirilis per Februari 2026 mengungkap korespondensi email yang merinci pengiriman tiga potongan Kiswa—kain penutup suci Ka’bah di Mekkah—langsung ke rumah Epstein di Florida, Amerika Serikat.
Temuan ini menambah lapisan baru dalam skandal yang melibatkan mendiang miliarder tersebut, menunjukkan jaringan pengaruhnya yang merambah hingga ke tokoh-tokoh di Timur Tengah.
Detail Pengiriman: Diklasifikasikan Sebagai “Karya Seni”
Berdasarkan email bertanggal Februari dan Maret 2017, pengiriman benda suci tersebut diatur oleh pengusaha asal Uni Emirat Arab (UEA), Aziza al-Ahmadi, dan seorang perantara Saudi bernama Abdullah al-Maari. Untuk menghindari pemeriksaan ketat di bea cukai, barang-barang tersebut diklasifikasikan sebagai “artwork” (karya seni).
Berikut adalah rincian tiga potongan kain yang dikirimkan:
-
Bagian Dalam: Potongan kain yang diambil dari bagian dalam Ka’bah.
-
Bagian Luar (Bekas Pakai): Potongan kain penutup luar yang telah digunakan dan memiliki bordiran emas.
-
Bahan Tak Terpakai: Potongan kain dengan bahan yang sama namun belum sempat digunakan.
Makna Religius dalam Korespondensi
Hal yang paling mengejutkan bagi banyak pihak adalah bagaimana Al-Ahmadi menekankan kesucian kain tersebut dalam emailnya kepada Epstein. Ia menjelaskan bahwa kain hitam tersebut adalah saksi bisu dari jutaan doa umat Muslim.
“Potongan hitam ini telah disentuh oleh setidaknya 10 juta umat Muslim; mereka meninggalkan doa, air mata, dan harapan di sana. Dengan harapan setiap doa akan dikabulkan,” tulis Aziza al-Ahmadi dalam emailnya yang dikutip dari dokumen pengadilan.
Reaksi dan Pertanyaan Tak Terjawab
Pengungkapan ini memicu kecaman luas di komunitas Muslim dunia. Banyak yang mempertanyakan bagaimana kain Kiswah, yang biasanya hanya diberikan sebagai hadiah diplomatik resmi kepada kepala negara atau institusi terhormat, bisa berakhir di tangan seorang narapidana kejahatan seksual.
Hingga saat ini, dokumen tersebut belum menjelaskan alasan spesifik mengapa Epstein menginginkan kain tersebut atau bagaimana hubungan awal antara Al-Ahmadi dan Epstein terbentuk. Fakta ini semakin memperkuat spekulasi mengenai betapa dalamnya koneksi tersembunyi Epstein dalam mengumpulkan simbol-simbol kekuatan dan kesucian untuk kepentingan pribadinya.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/

























