JAKARTA – Lompatan inovasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) memang sangat mencengangkan. Berbagai perusahaan teknologi raksasa berlomba-lomba memamerkan AI yang mampu mendiagnosis penyakit mematikan, merancang tata kota, hingga menciptakan karya seni tingkat tinggi. Namun, di tengah euforia tersebut, muncul sebuah ironi dan kritik tajam dari masyarakat akar rumput. Di media sosial, viral narasi bahwa warganet tak minta AI taklukkan kanker, mereka cuma ingin pekerjaan dan tugas-tugas domestik yang melelahkan diambil alih oleh mesin.
Sentimen ini berakar dari rasa frustrasi kelas pekerja urban yang merasa arah pengembangan teknologi saat ini justru terbalik dari apa yang mereka impikan selama ini.
Ironi Generative AI: Mesin Berkesenian, Manusia Mencuci Piring
Sebuah kutipan (quote) viral di berbagai platform media sosial belakangan ini merangkum keluh kesah tersebut secara sempurna: “Saya ingin AI menyetrika baju dan mencuci piring agar saya punya waktu untuk melukis dan menulis puisi. Bukan AI yang melukis dan menulis puisi sehingga saya harus kembali mencuci piring.”
Kutipan ini menyoroti bagaimana produk Generative AI (seperti ChatGPT, Midjourney, dan Sora) justru dengan cepat menginvasi ranah kreatif dan intelektual manusia.
“Ini adalah sebuah anomali ekspektasi. Pada awalnya, warganet tak minta AI taklukkan kanker, mereka cuma ingin pekerjaan dan pekerjaan kasar (menial labor) diserahkan ke robot. Kenyataannya, inovasi robotika fisik berjalan jauh lebih lambat dibandingkan perangkat lunak generatif yang kini malah mengancam mata pencaharian para penulis, desainer, dan seniman,” ungkap salah satu pengamat budaya digital mengomentari fenomena techno-dystopia ini.
Tiga Alasan Mengapa Warganet Merasa “Dikhianati” AI
Kekecewaan kolektif ini bukan berarti masyarakat anti terhadap kemajuan teknologi. Ada tiga alasan fundamental mengapa arah pengembangan AI saat ini dinilai kurang menyentuh kebutuhan emosional manusia sehari-hari:
-
Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Sektor Kreatif: Alih-alih mengurangi beban jam kerja fisik manusia, AI justru lebih dulu menggantikan posisi pekerja kerah putih (white-collar) dan pekerja kreatif lepas (freelancer), membuat persaingan hidup semakin ketat.
-
Robotika Fisik Terlalu Mahal: Menciptakan robot asisten rumah tangga yang bisa melipat baju dan menyapu lantai jauh lebih mahal dan kompleks secara mekanis dibandingkan melatih model bahasa (LLM) di dalam server.
-
Hilangnya Esensi Leisure Time: Janji awal otomatisasi adalah memberikan manusia lebih banyak waktu luang (leisure time) untuk mengeksplorasi hobi. Sayangnya, efisiensi yang diciptakan AI justru dimanfaatkan oleh korporasi untuk membebani pekerja dengan target produksi yang jauh lebih tinggi.
Menuntut Inovasi yang Berpusat pada Kemanusiaan
Gelombang curhatan di media sosial ini seharusnya menjadi sinyal evaluasi bagi para pengembang teknologi di Silicon Valley maupun di seluruh dunia. Publik mendesak adanya keseimbangan inovasi. Kecerdasan buatan harus dikembalikan pada muruahnya sebagai alat bantu (co-pilot) yang meringankan beban operasional fisik, bukan sebagai kompetitor yang merampas ruang berekspresi dan kebahagiaan manusia dalam berkesenian.’
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/

























