FORMAT-FOTO-WEB-2-6
Simbol Rekonsiliasi: Pandji Pragiwaksono Santap Hidangan Persembahan dalam Ritual Minta Maaf ke Leluhur Toraja

TANA TORAJA – Prosesi permohonan maaf Pandji Pragiwaksono kepada masyarakat adat Toraja memasuki babak yang sangat emosional dan penuh simbolisme. Pada Kamis (12/2/2026), sang komika tidak hanya menyampaikan kata-kata penyesalan, tetapi juga secara aktif berpartisipasi dalam puncak acara dengan menyantap hidangan persembahan yang telah disiapkan oleh para tetua adat.

Momen ini bukan sekadar jamuan makan biasa, melainkan bagian dari hukum adat yang menandakan bahwa permohonan maaf telah diterima dan hubungan antara pelanggar dengan leluhur (Aluk To Dolo) serta komunitas telah pulih.

Makna Sakral: Makan Bersama Leluhur dan Komunitas

Dalam tradisi Toraja, menyantap hidangan yang telah dipersembahkan dalam ritual permohonan maaf memiliki makna yang dalam. Hal ini melambangkan kembalinya keharmonisan (Situren) dan hilangnya ganjalan batin.

Poin-poin penting dari prosesi hari ini meliputi:

  • Penyajian Adat: Hidangan yang disajikan biasanya berupa daging hewan kurban yang diproses sesuai tata cara tradisional.

  • Penerimaan Budaya: Dengan menyantap hidangan tersebut, Pandji dianggap telah “dibersihkan” secara adat dari kekhilafan lisannya.

  • Kehadiran Tokoh Adat: Prosesi ini disaksikan langsung oleh para pemuka adat yang memberikan restu serta wejangan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

“Belajar Menghargai Kedalaman Rasa di Atas Komedi”

Pandji tampak khidmat mengikuti setiap arahan dari pemandu adat. Setelah menyantap hidangan tersebut, suasana ketegangan yang sebelumnya menyelimuti kasus ini tampak mencair secara signifikan. Jalur budaya ini terbukti memberikan ruang bagi kedua belah pihak untuk saling memahami tanpa harus melalui perdebatan hukum yang kaku.

“Menyantap hidangan persembahan ini adalah pengalaman spiritual yang luar biasa bagi saya. Ini lebih dari sekadar meminta maaf; ini adalah tentang belajar menghormati nilai-nama yang lebih besar dari diri kita sendiri. Terima kasih Toraja telah membuka pintu maaf,” ungkap Pandji Pragiwaksono, Kamis (12/2/2026).

Meskipun secara adat masalah ini dianggap selesai, publik berharap langkah Pandji ini menjadi pelajaran bagi para pelaku industri kreatif lainnya untuk lebih bijak dalam menyentuh isu-isu sensitif terkait kearifan lokal.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/