Jakarta – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia berpotensi mengganggu serangga penyerbuk yang berperan penting dalam produksi minyak sawit. Gangguan tersebut dapat memengaruhi pembentukan buah kelapa sawit dan berisiko menekan hasil panen pada bulan-bulan mendatang.
Peneliti dari Indonesian Oil Palm Research Institute (IOPRI), Agus Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa asap pekat dan berkurangnya intensitas cahaya matahari dapat mengganggu aktivitas kumbang penyerbuk. Serangga ini membantu memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina agar buah kelapa sawit dapat terbentuk.
Pengalaman saat krisis kabut asap pada 2015 menunjukkan penurunan proporsi bunga yang berkembang menjadi buah sekitar 5 hingga 20 persen. Meski demikian, dampak kabut asap tahun ini terhadap proses penyerbukan belum dapat dipastikan.
Risiko tersebut muncul ketika industri sawit Indonesia juga menghadapi tekanan akibat cuaca kering dan fenomena El Niño. Kombinasi kedua kondisi itu berpotensi memperburuk produktivitas perkebunan apabila berlangsung dalam waktu lama.
Dampak gangguan penyerbukan tidak langsung terlihat pada saat kebakaran terjadi. Tandan buah kelapa sawit membutuhkan waktu sekitar lima hingga enam bulan untuk matang setelah proses penyerbukan. Karena itu, perubahan hasil panen akibat kondisi saat ini berpotensi baru terlihat sekitar Maret atau April 2027.
Peneliti mengingatkan bahwa pemulihan kondisi lingkungan tetap penting untuk menjaga aktivitas serangga penyerbuk dan mendukung keberlanjutan produksi minyak sawit.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/























