699868957e47f
Diplomasi Tanpa Lawan! Mengapa Donald Trump Memilih 'Kawan' Bukan 'Lawan' Terhadap Presiden Prabowo?

WASHINGTON D.C. / JAKARTA – Sebuah fenomena menarik muncul dalam peta politik global pada Sabtu (21/2/2026). Di tengah gaya kepemimpinan Donald Trump yang seringkali transaksional dan blak-blakan, terdapat satu pengecualian yang mencolok: pendekatannya terhadap Presiden Indonesia, Prabowo Subianto.

Alih-alih terlibat dalam perang tarif atau tekanan diplomatik yang keras, Trump justru menunjukkan sikap yang cenderung “menghindari konfrontasi” dengan Indonesia. Banyak pengamat menilai ini adalah hasil dari personal chemistry yang kuat dan kesamaan pandangan mengenai kedaulatan nasional.

Faktor Di Balik “Gencatan Senjata” Diplomasi

Mengapa Trump enggan melawan Prabowo? Setidaknya ada tiga alasan utama yang mendasari harmoni tak terduga ini:

  • Kesamaan Karakter (Strongman Connection): Keduanya dikenal sebagai pemimpin nasionalis yang mengutamakan kepentingan dalam negeri (America First vs Indonesia First). Hal ini menciptakan rasa hormat timbal balik yang jarang ditemukan dalam hubungan diplomatik konvensional.

  • Posisi Strategis Indonesia: Dalam konteks persaingan global di Indo-Pasifik, AS sangat membutuhkan Indonesia sebagai jangkar stabilitas. Menjadikan Indonesia sebagai “lawan” hanya akan mendorong Jakarta semakin dekat ke poros kekuatan timur lainnya.

  • Kebutuhan Ekonomi & Militer: Kerja sama pengadaan alutsista kelas berat dan investasi teknologi tinggi menjadi pengikat yang membuat konfrontasi dianggap tidak menguntungkan bagi kedua belah pihak.

“Persahabatan di Tengah Badai Global”

Keengganan Trump untuk berseberangan dengan Prabowo memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia. Indonesia memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk bernegosiasi tanpa harus merasa tertekan oleh hegemoni besar.

“Trump melihat dalam diri Prabowo seorang pemimpin yang ‘bisa diajak bicara’ karena keduanya bicara dengan bahasa kekuatan dan kepentingan nasional yang jelas. Tidak ada basa-basi diplomatik yang membosankan; yang ada hanyalah kesepakatan nyata yang menguntungkan kedua pihak,” ungkap analis politik internasional, Sabtu (21/2/2026).

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/