selat-hormuz-cabang-sidokare-sidoarjo-1775368950027_43
Bukan Konflik Timur Tengah! Ini Pengakuan Lansia yang Nekat Tutup Sepihak 'Selat Hormuz' di Sidokare Sidoarjo

SIDOARJO – Kehidupan bertetangga di kawasan permukiman memang selalu punya cerita unik yang tak terduga. Memasuki pekan pertama bulan April, tepatnya pada Senin (6/4/2026), sorotan publik tertuju pada sebuah polemik jalanan di kawasan Sidokare, Kabupaten Sidoarjo. Bukan karena ada perbaikan jalan atau razia lalu lintas, melainkan karena akses sebuah jalan yang kebetulan bernama Jalan Selat Hormuz ditutup secara sepihak oleh seorang warga lanjut usia (lansia).

Aksi blokade yang dilakukan sang kakek/nenek ini sontak membuat warga sekitar dan pengguna jalan kebingungan. Pasalnya, jalan tersebut merupakan salah satu akses alternatif yang cukup sering dilewati oleh masyarakat setempat untuk mobilitas sehari-hari.

Setelah didatangi oleh pihak RT/RW dan kepolisian setempat (Bhabinkamtibmas) untuk mediasi, akhirnya keluar juga pengakuan dari sang lansia. Alasan di balik aksi nekatnya ini ternyata berakar dari masalah klasik kehidupan bertetangga. Berdasarkan penuturan pihak berwenang, sang lansia merasa terganggu dengan aktivitas lalu lalang kendaraan yang dianggap terlalu bising, sering ngebut, dan dinilai membahayakan anak-anak kecil di sekitar rumahnya. Ada pula klaim sepihak mengenai batas patok lahan yang diyakini masih menjadi hak miliknya.

Menyikapi hal ini, aparat desa dan pihak kepolisian tentu mengedepankan langkah persuasif dan kekeluargaan (keadilan restoratif). Mengingat pelakunya adalah warga lanjut usia, pendekatan yang digunakan bukanlah ancaman pidana, melainkan edukasi dengan kepala dingin.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari “Konflik Selat Hormuz” lokal ini?

  • Jalan Umum adalah Milik Bersama: Sebesar apa pun rasa kesal kita terhadap pengguna jalan yang bandel, menutup jalan umum secara sepihak tidak dibenarkan oleh hukum, karena merampas hak fasilitas publik orang lain.

  • Gunakan Portal dan Aturan Jam Malam: Jika masalahnya adalah kendaraan yang sering ngebut atau bising, solusinya adalah kesepakatan warga lewat RT/RW untuk memasang portal polisi tidur (speed bump), atau memberlakukan jam malam, bukan diblokade mati.

Meski sempat bikin repot, kasus di Sidokare ini sukses diselesaikan lewat jalan musyawarah mufakat. Palang penutup jalan akhirnya dibongkar. Semoga kejadian ini jadi pengingat buat kita semua: kalau bawa motor di jalan perkampungan, tolong kurangi kecepatan dan perhatikan etika, biar para sesepuh kita bisa istirahat dengan tenang!

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/