69f8af325f993
Alarm Bahaya! Rupiah Terkapar Ditutup di Level Rp 17.706 per Dollar AS, Harga Pangan Bisa Melambung?

JAKARTA – Fundamental ekonomi makro Indonesia kembali mendapat ujian berat. Laju pelemahan mata uang Garuda seolah tak terbendung dan terus mencetak rekor terendah barunya di tahun ini. Pada penutupan perdagangan sore ini, Rupiah terkapar ditutup di level 17706 per dollar AS, harga pangan bisa menjadi korban utama dari efek domino yang akan mencekik daya beli masyarakat luas.

Pelemahan yang menembus level psikologis baru ini membuat para pelaku pasar menahan napas. Pasalnya, depresiasi mata uang yang terlampau dalam tidak hanya memukul sektor industri, tetapi akan langsung terasa di meja makan rakyat.

Ancaman Nyata Imported Inflation

Ketika Rupiah terus merosot, ancaman terbesar yang membayangi ekonomi domestik adalah imported inflation (inflasi yang berasal dari barang impor). Meskipun Indonesia merupakan negara agraris, faktanya pasokan sejumlah komoditas pangan esensial masih sangat bergantung pada keran impor yang dibayar menggunakan Dolar AS.

Melihat kenyataan bahwa mata uang Rupiah terkapar ditutup di level 17706 per dollar AS, harga pangan bisa meroket tak terkendali jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi harga di tingkat distributor.

Berikut adalah peta risiko komoditas pangan yang paling rentan terdampak oleh pelemahan Rupiah:

Komoditas Pangan Impor Potensi Dampak Lanjutan di Pasaran
Gandum & Tepung Berpotensi memicu lonjakan harga mi instan, roti, dan aneka jajanan pasar.
Kedelai Biaya produksi perajin tahu dan tempe akan membengkak drastis.
Bawang Putih Lebih dari 90% kebutuhan nasional diimpor; harga eceran berisiko melambung.
Daging Sapi (Beku) Kenaikan harga daging impor akan membebani industri kuliner dan rumah tangga.

Pengusaha Makanan Mulai Menjerit

Beban ganda kini dirasakan oleh para produsen di sektor industri Makanan dan Minuman (Mamin). Di satu sisi, biaya bahan baku impor meroket seiring menguatnya Dolar AS. Namun di sisi lain, mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk (passing the cost) kepada konsumen, mengingat daya beli masyarakat kelas pekerja yang masih rapuh.

“Situasinya sudah lampu merah. Jika Rupiah terus bertengger di atas Rp 17.700 dalam beberapa pekan ke depan, banyak pabrik makanan yang terpaksa memangkas margin keuntungan habis-habisan atau terpaksa mengecilkan ukuran produk (shrinkflation) agar tidak bangkrut,” jelas salah satu ketua asosiasi pengusaha makanan dan minuman.

Menanti Jurus Stabilitas dari Bank Sentral dan Pemerintah

Merespons tekanan yang kian berat ini, Bank Indonesia (BI) diyakini akan terus mengawal pasar melalui operasi moneter secara masif untuk memastikan ketersediaan likuiditas valas. Publik juga menanti langkah taktis BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) terdekat, apakah akan mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate).

Sementara itu, pemerintah didorong untuk segera memperkuat cadangan pangan nasional (CBP) melalui Bulog dan memperlancar jalur distribusi logistik demi meredam gejolak harga kebutuhan pokok di pasar tradisional sebelum masyarakat benar-benar kehabisan napas.

Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/

Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/