NEW YORK / WASHINGTON – Pasar keuangan global mendapatkan kejutan besar di penghujung pekan ini. Pada Sabtu (21/2/2026), dilaporkan bahwa Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat secara resmi membatalkan sebagian besar kebijakan tarif yang sebelumnya diusulkan atau diterapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Langkah hukum ini dianggap sebagai kemenangan besar bagi para importir dan perusahaan multinasional, yang segera direspons dengan lonjakan signifikan di bursa saham Wall Street.
Pasar Merayakan Berakhirnya Ketidakpastian
Kebijakan tarif yang sebelumnya memicu kekhawatiran akan terjadinya perang dagang berkepanjangan kini kehilangan taringnya di meja hijau. Para investor melihat pembatalan ini sebagai peluang bagi penurunan biaya operasional perusahaan dan potensi meredanya tekanan inflasi global.
Beberapa poin krusial di balik melajunya Wall Street:
-
Peningkatan Margin Laba: Perusahaan di sektor teknologi, otomotif, dan ritel yang sangat bergantung pada komponen impor kini berpotensi menghemat biaya produksi dalam skala besar.
-
Sentimen Positif Investor: Keputusan MA memberikan kepastian hukum yang selama ini dinanti oleh para pelaku pasar guna menentukan strategi investasi jangka panjang.
-
Reli Indeks Utama: Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq dilaporkan langsung bergerak ke zona hijau sesaat setelah putusan tersebut diumumkan ke publik.
“Kemenangan bagi Perdagangan Bebas?”
Meskipun pembatalan ini disambut meriah oleh pasar saham, para analis mengingatkan bahwa dinamika politik antara Gedung Putih dan lembaga yudikatif akan semakin memanas. Namun, untuk saat ini, Wall Street memilih untuk fokus pada potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih cair tanpa hambatan tarif yang berat.
“Pasar membenci ketidakpastian, dan tarif adalah salah satu sumber ketidakpastian terbesar dalam dua tahun terakhir. Keputusan MA ini memberikan ‘lampu hijau’ bagi korporasi untuk kembali melakukan ekspansi tanpa dihantui beban pajak impor yang membengkak,” ungkap salah satu analis pasar modal senior, Sabtu (21/2/2026).
Keputusan ini juga diprediksi akan memperkuat posisi nilai tukar beberapa mata uang mitra dagang utama AS yang sebelumnya tertekan oleh isu proteksionisme.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/

























