LAMPUNG TIMUR – Pendidikan sering disebut sebagai jembatan menuju masa depan, namun bagi para pelajar di sebuah desa di Lampung Timur, jembatan fisik yang nyata justru menjadi penghalang besar. Tepat satu tahun sejak akses utama mereka rusak atau terputus, anak-anak sekolah di wilayah tersebut masih harus bertaruh nyawa setiap hari dengan menyeberangi aliran sungai demi mencapai ruang kelas.
Kondisi yang memprihatinkan ini terus berlanjut tanpa adanya kepastian kapan pembangunan infrastruktur permanen akan dilakukan oleh pemerintah daerah setempat.
Perjuangan Harian Melawan Arus
Tanpa adanya jembatan, pilihan para siswa sangat terbatas: memutar jalan sangat jauh dengan waktu tempuh berjam-jam, atau nekat menembus arus sungai. Kebanyakan dari mereka memilih opsi kedua agar tidak terlambat mengikuti pelajaran.
Berikut adalah risiko nyata yang dihadapi para pelajar setiap hari:
-
Arus Deras Saat Hujan: Ketika hujan turun, debit air sungai meningkat drastis, membuat penyeberangan menjadi sangat berbahaya bagi anak-anak.
-
Pakaian dan Buku Basah: Tak jarang para siswa harus mengangkat seragam dan tas mereka tinggi-tinggi agar tidak basah kuyup saat tiba di sekolah.
-
Ancaman Penyakit: Berinteraksi langsung dengan air sungai yang tidak higienis setiap hari meningkatkan risiko penyakit kulit dan infeksi lainnya.

Satu Tahun Tanpa Solusi Permanen
Meski masalah ini sudah berlangsung selama satu tahun (sejak awal 2025 hingga Februari 2026), penanganan yang diberikan dinilai masih sangat minim. Warga menyatakan bahwa janji perbaikan sering terdengar, namun realisasi di lapangan belum terlihat secara signifikan.
Mendesak Perhatian Pemerintah Daerah
Tokoh masyarakat setempat menekankan bahwa keselamatan anak-anak tidak boleh dikompromikan dengan alasan birokrasi atau keterbatasan anggaran. Pembangunan jembatan darurat yang layak atau percepatan jembatan permanen menjadi harga mati agar tidak ada korban jiwa di kemudian hari.
“Kami hanya ingin anak-anak kami sekolah dengan aman. Sudah setahun kami menunggu, tapi setiap pagi kami harus melihat mereka berjuang melawan arus sungai. Ini sangat menyedihkan,” ujar salah satu orang tua siswa di Lampung Timur, Senin (2/2/2026).
Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Timur diharapkan segera berkoordinasi untuk memprioritaskan titik-titik infrastruktur pendidikan yang kritis guna menjamin hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan aman.
Baca juga berita update lainnya disini: https://nakarimedia.com/
Baca juga berita update lainnya disini: https://binarnesia.com/
























